Archive for the 'Uncategorized' Category

Tiket Kereta Api Elektronik Pertama di Indonesia

Tuesday, July 3rd, 2007

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/fidelis/fidelis.name/wp-includes/functions-formatting.php on line 77

Akhirnya PT.KAI bikin tiket elektronik, walopun baru untuk KRL AC jurusan Serpong - Tanah Abang. Tapi udah kemajuan lah daripada ga ada sama sekali. Coba dari dulu make tiket elektronik, gw yakin jumlah penumpang tak bertiket bakalan berkurang. Jadi sistem tiket elktronik ini sama kaya yg di luar negeri. Sebelum masuk dan keluar  stasiun kereta kita mesti masukin tiket ke mesin pendeteksi, ya gw ga tau deh bentuknya kaya gimana di Indonesia (mungkin mirip mesin tiket nya Busway :D ).

Kapan ya KRL non AC pake sistem tiket elektronik juga ya?bakalan diprotes sama rakyat ga ya? Soalnya klo dah make tiket elektronik, ga bisa lagi naik kereta “gratis” :D


Bedahkah Mahasiswa Jepang dan Indonesia?

Saturday, June 23rd, 2007

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/fidelis/fidelis.name/wp-includes/functions-formatting.php on line 77

Sebelum gw datang ke Jepang, gw selalu mikir pasti mahasiswa jepang tuh rajin2 makanya mereka bisa jadi negara maju.

Tapi setelah gw mengikuti beberapa kelas di sini (Osaka University), kayanya gw harus mengganti pandangan gw itu. Soalnya di kelas yg gw ikutin, hampir samalah keadaanya dengan kelas yg gw ikutin di Universitas Indonesia. Malah mungkin lebih parah :D

Kalau mahasiswa tidur di kelas atau ngobrol, itu kayanya di Indonesia juga banyak. Tapi kalau tidurnya sambil dengerin iPod,mungkin jarang ada di Indonesia. Tapi kalau di kelas maen PSP,waduh..gw blm pernah liat tuh hal kaya gitu di Indonesia :D

Emang sih ga semuanya kaya gitu. Yang rajin juga ada :D

Dan Osaka University itu bukan kampus gembel loh. Dari beberapa info tentang ranking universitas di Jepang, Osaka University pasti selalu ada di 10 besar. Bahkan ada yang menempatkan di 3 besar. Jadi anda bisa mikir, klo di kampus yang bagus aja mahasiswanya kaya gitu,apalagi di kampus yg kurang `bagus` :D

Tapi gw belum pernah liat mahasiswa Jepang yang nyontek pas ujian. Biasanya mereka klo ga bisa, pasrah aja :D

Terus, gw jadi berpikir, kenapa Jepang bisa maju? Padahal perilaku mahasiswanya juga ga beda jauh sama di Indonesia (kecuali budaya nyonteknya ya :D )

Well, gw rasa karena budaya disiplin dan kerja kerja keras yg diterapkan oleh perusahaan2 Jepang yang membuat Jepang bisa menjadi negara maju. Jadi pas kuliah mungkin mereka bisa santai. Tapi pas udah kerja, fuih…kerja keras!!!:D

Ya mungkin itu cuma salah satu faktor aja yang membuat Jepang menjadi negara maju. Tentu saja masih banyak hal2 lainnya. Seperti rendahnya tingkat korupsi,


Ini toh alasan kenapa Jakarta kebanjiran mulu….

Saturday, February 3rd, 2007

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/fidelis/fidelis.name/wp-includes/functions-formatting.php on line 77

Sungai Ciliwung memang terkenal dengan potensi banjirnya sejak dulu. Namun, kerawanan itu bertambah parah sejak 2001.

Pada tahun itu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) merilis foto satelit mengenai perubahan penggunaan lahan di Bogor, terutama di daerah tangkapan air (catchment area) hulu Sungai Ciliwung, dari kawasan hijau yang diisi vegetasi menjadi kawasan terbangun. Setahun kemudian, banjir besar melanda Jakarta dan sekitarnya.

Data LAPAN, kawasan terbangun di daerah itu, yang pada 1992 hanya 101.363 hektar, pada 2006 naik dua kali lipat menjadi 225.171 hektar. Sedangkan kawasan tidak terbangun yang semula 665.035 hektar menyusut menjadi 541.227 hektar.

Menurut Bambang S Tedjasukmana, Deputi Bidang Penginderaan Jauh LAPAN, di Bogor, permukiman meluas di sepanjang daerah tangkapan air Sungai Ciliwung. Limpahan penduduk dan aktivitas dari Jakarta menyebabkan perumahan, kawasan jasa dan perdagangan, serta industri terus menyebar ke Citeureup, sampai ke Depok.

Di hulu, air hujan yang seharusnya terserap ke tanah justru mengalir ke sungai. Tidak ada lagi pepohonan yang menyimpan air di dalam tanah. Tidak ada lagi tanah yang terbuka untuk menyimpan air.

Kawasan yang semula diperuntukkan untuk kawasan hijau telah berganti fungsi karena tuntutan perkembangan ekonomi kota. Fungsi konservasi lingkungan tidak lagi diperhatikan.

Di hilir, daerah aliran sungai yang masuk ke Jakarta pun dipadati oleh rumah-rumah penduduk dan bangunan lainnya. Bahkan, beberapa bagian badan sungai menyempit karena banyaknya rumah yang didirikan di atas sungai.

Pengamatan Kompas, Sungai Ciliwung yang dulu lebarnya mencapai 40 meter, kini menyempit antara 13 meter sampai 20 meter. Kedalaman sungai di beberapa lokasi juga tinggal dua meter.

Dengan kondisi itu, hujan dengan intensitas sedang di kawasan hulu atau bahkan hujan di dalam Kota Jakarta pun akan membuat Sungai Ciliwung langsung meluap. Banjir pun tidak terhindarkan di Jakarta.

Langkah terintegrasi

Menurut peneliti hidrologi dan rekayasa lingkungan Universitas Indonesia, Firdaus Ali, masalah banjir yang kompleks dari hulu sampai hilir membutuhkan penanganan yang terintegrasi, dari hulu sampai hilir juga.

“Menangani banjir di hilir tanpa memperbaiki kawasan hulu akan menjadi pekerjaan sia-sia karena limpahan air banjir dari hulu akan selalu lebih besar dari daya tampung sungai,” ujarnya.

Pada kondisi normal, kata Firdaus, debit air yang masuk Sungai Ciliwung sampai di Pintu Air Manggarai mencapai 28 meter kubik per detik. Sedangkan pada saat hujan lebat dan banjir, debit air melonjak sampai 200 meter kubik per detik.

Fluktuasi debit air yang sangat tajam itu menandakan rendahnya daya serap air di hulu dan kecilnya daya tampung di hilir.

Menanggapi kondisi itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Wisnu Subagyo Yusuf mengemukakan, perbaikan kawasan hulu dengan reboisasi atau pembatasan pengalihan penggunaan lahan sulit dilakukan. Otonomi daerah membuat pemerintah kabupaten dan kota di kawasan hulu lebih memilih peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dari pemberian izin untuk perumahan atau kawasan komersial.

Oleh karena itu, ujar Wisnu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengajukan dua usul pencegahan banjir di hulu. Kedua usulan itu adalah sudetan Sungai Ciliwung yang dihubungkan ke Sungai Cisadane dan membangun bendungan Ciawi di hulu Sungai Ciliwung. Kedua usulan itu bertujuan untuk mengatur debit air yang akan masuk ke hilir Sungai Ciliwung.

Sudetan Sungai Ciliwung ke Sungai Cisadane dimaksudkan untuk mengalihkan debit air banjir Ciliwung ke sungai yang mengalir ke Tangerang itu. Daerah resapan air Cisadane yang relatif masih hijau dan badan sungai yang belum menyempit dinilai sanggup menampung limpahan air banjir dari Sungai Ciliwung.

Sayangnya, proyek yang rencananya akan didanai oleh Jepang itu ditolak oleh para pemuka masyarakat dan Pemerintah Kota Tangerang. Tanpa dilimpahi air dari Ciliwung, Sungai Cisadane pun sering menimbulkan banjir di Tangerang. Mengingat otonomi daerah, Pemprov Jakarta tidak dapat memaksakan kehendaknya dan rencana itu batal.

Rencana membangun bendungan Ciawi juga gagal. Pemprov DKI Jakarta yang bersedia membayar Rp 200 miliar untuk pembebasan lahan seluas 200 hektar justru tidak dapat menggunakan dananya. Dana APBD tidak dapat digunakan untuk pembangunan di luar wilayah administrasi, kecuali diberikan dalam bentuk hibah ke Pemerintah Kabupaten Bogor.

Namun, karena tidak ada jaminan dari Pemerintah Kabupaten Bogor untuk menggunakan dana hibah guna membangun bendungan Ciawi, rencana itu akhirnya tidak pernah terwujud.

Di sisi hilir, kata Wisnu, Jakarta sangat mengandalkan Banjir Kanal Timur. Saluran yang saat ini sedang dalam masa pembebasan lahan diprediksikan dapat menampung limpahan air dari lima sungai utama di Jakarta dan melindungi kawasan seluas 270 kilometer persegi.

Banjir Kanal Timur akan melengkapi Banjir Kanal Barat untuk menampung air dari 40 persen wilayah Jakarta yang lebih rendah dari permukaan laut. Air itu akan dialirkan dengan cepat ke laut dengan menggunakan sistem polder dan pompa.

Solusi

Direktur Tata Ruang dan Perumahan Bappenas Salysra Widya mengutarakan, permasalahan egoisme wilayah dalam menyusun langkah mengatasi banjir dapat dijembatani oleh pemerintah pusat. Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang dapat duduk bersama dengan pemerintah pusat untuk merealisasikan ide rekayasa sungai dan pembatasan peralihan penggunaan lahan di kawasan daerah resapan air.

Namun, Pemprov DKI Jakarta perlu memberikan kompensasi tertentu kepada pemerintah-pemerintah daerah yang bersangkutan agar mereka tetap dapat memperoleh PAD jika menjalankan rencana itu. Dengan demikian, semua daerah saling diuntungkan meskipun Jakarta harus mengeluarkan dana besar untuk itu.

Solusi di hulu harus berkesinambungan, antara pembatasan penggunaan lahan, reboisasi intensif, dan pembangunan bendungan. Jika hanya satu langkah yang dilaksanakan, langkah lain akan menjadi kurang efektif.

Di hilir, selain pembuatan Banjir Kanal Timur, Firdaus mengusulkan pembuatan penampungan air bawah tanah dalam skala besar atau deep tunnel reservoir. Penampungan air bawah tanah, seperti yang diterapkan Chicago (Amerika Serikat) dan Singapura mampu menampung sekitar 200 juta meter kubik air dan dapat bertahan 125 tahun.

Ide penampungan air bawah tanah adalah menampung semua limpahan air banjir dan limbah cair dari sanitasi lingkungan ke dalam bendungan bawah tanah. Air tampungan itu dapat diolah dan digunakan sebagai cadangan air baku bagi Jakarta.

Saat ini, kata Firdaus, Indonesia menghadapi perubahan iklim akibat pemanasan global. Perubahan iklim tersebut menyebabkan musim hujan lebih pendek, tetapi curah hujan lebih tinggi.

Jika air tersebut tidak disimpan dalam penampungan yang besar, Jakarta akan terancam kekeringan dan banjir dalam waktu yang bergantian sepanjang tahun. Bencana yang akan semakin memiskinkan Indonesia.

Biaya pembuatan penampungan air bawah tanah itu, menurut Firdaus, diperkirakan “hanya” memerlukan Rp 12 triliun. Jumlah tersebut masih terjangkau oleh APBD DKI Jakarta 2007 yang mencapai Rp 21,5 triliun.

sumber: www.kompas.com


`Anjr*t Meleset`

Tuesday, January 23rd, 2007

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/fidelis/fidelis.name/wp-includes/functions-formatting.php on line 77
suatu hari seorang pendeta pergi bermain golf dengan pelayannya. 

pukulan pertama jaraknya 100m dari lubang. si pendeta pun mengayunkan stiknya dengan mantap…

SWINGGG…….pluk…glutuk..glutuk….si bola golf menggelinding ke arah lubang….tapi sayang berhenti saat jaraknya tinggal 10m lagi…

melihat hal ini si pendeta emosi sambil bilang “anjrXt meleset !!!”

si pelayan di sampingnya langsung mengingatkan “pak pendeta jangan ngomong kaya gitu, anda kan pendeta”. si pendeta pun sadar “oh iya..iya..maaf saya keceplosan”

pukulan ke dua dengan jarak 10 m dari lubang….

kali ini si pendeta yakin bakalan bisa masukin bola ke lubang….swing…glutuk…glutuk….eehhhh si bola malah berenti pas tinggal 10 cm lagi dari lubang !!!

si pendeta langsung emosi lagi sambil teriak “AnjrXt meleset !!!!!!”

lagi-lagi si pelayan mengingatkan “aduuh pak pendeta hati2 kalau marah, gak enak kalo di denger sama yang lain, anda kan pendeta”

“Aduuh maaf..aku keceplosan lagi, itu tadi yang terakhir deh aku ngomong kaya gitu, suer berani disamber petir kalo bohong” jawab si pendeta

pukulan ke tiga dengan jarak 10cm dari lubang….

dengan muka serius dan penuh keyakinan si pendeta memukul bola…tuk!..glutuk…glutuk….eh !!!!! si bola malah berenti pas tepat di pinggir lubang !!!

dengan penuh emosi si pendeta membanting stik golf-nya sambil teriak-teriak “ANJRxT MELESET !!!!!!”

langsung seketika itu juga petir menyambar dari langit DHUUUEEAARRR !!!!!

pelayan si pendeta mati seketika ketika tersambar petir itu

….

….

dari langit kedengaran suara “ANJRxT Meleset !!!”


Tagihan Telepon

Monday, January 22nd, 2007

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/fidelis/fidelis.name/wp-includes/functions-formatting.php on line 77
The phone bill was exceptionally high and the man of the house called a family meeting.

Dad: People this is unacceptable. You have to limit the use of the phone. I do not use this phone, I use the one at the office.

Mum: Same here, I hardly use this home telephone as I use my work telephone

Son: Me too, I never use the home phone. I always use my company mobile

Maid: So what is the problem? We all use the telephone at our work place.